KARYA PARA ADMIN

Selasa, 20 November 2012

PANDUAN MENULIS PUISI

oleh Pakde Azir

Menulis puisi dengan baik itu gampang-gampang susah. Ada orang yang mengatakan “Saya bisa menulis puisi jika sedang berada di kamar yang sunyi.”  Ada pula yang mengatakan “Saya bisa menulis puisi di mana saja.”  Pendapat lain mengatakan “Saya bisa menulis puisi saat hati saya sedang sedih.”
Ungkapan-ungkapan di atas hanya sebagian kecil saja pendapat orang tentang menulis puisi. Ada berbagai cara yang bisa digunakan untuk mengasah ketrampilan menulis puisi dengan baik dan benar.

STRUKTUR BATIN DAN STRUKTUR FISIK
Puisi terdiri dari dua unsur, yaitu unsur tematik (unsur semantik) dan unsur sintaksis. Unsur tematik atau unsur semantik menuju ke arah struktur batin sedangkan unsur sintaksis mengarah pada struktur fisik puisi.

STRUKTUR BATIN DALAM PUISI
Struktur batin adalah makna yang terkandung dalam puisi yang membutuhkan penghayatan. Struktur batin terdiri dari (1) ide/tema, (2) perasaan, (3) nada dan suasana, (4) amanat atau pesan.

Dalam sebuah forum diskusi maya (apresiasi sastra), penyair Hasan Aspahani pernah menyarikan perihal pasal-pasal puisi versi Goenawan Mohammad dalam bukunya “Kesusastraan dan Kekuasaan”.  Pasal-pasal berikut ini bisa kita jadikan panduan dalam memahami struktur batin puisi.

1. Dalam puisi, pada mulanya adalah komunikasi. Karena itu, puisi yang tidak palsu dengan sendirinya dan sudah seharusnya mengandung kepercayaan kepada orang lain, yaitu pembacanya.

2. Prestasi kepenyairan yang matang mencerminkan suatu gaya, setiap gaya mencerminkan suatu kepribadian, setiap kepribadian tumbuh dan hanya bisa benar-benar demikian bila ia secara wajar berada dalam komunikasi.

3. Puisi yang mencekoki pembaca, atau menyuruh pembaca menelan saja pesan yang hendak disampaikan atau yang dititipkan lewat penyair adalah puisi yang tidak pantas dihargai.

4. Penyair dan pembacanya berada dalam sebuah ruang kebersamaan yang meminta banyak hal serba terang, sebab dengan demikian terjamin kejujuran, dan penyair tidak sekedar menyembunyikan maksud puisinya bagi dirinya sendiri.

5. Akrobatik kata-kata untuk dengan sengaja membikin gelap suatu maksud sajak menunjukkan tidak adanya kejujuran, yang pada akhirnya tidak lagi dipercaya pembacanya dan kemudian ia pun tidak lagi percaya pada dirinya sendiri.

6. Penyair harus meletakkan puisinya di antara "kegelapan-supaya-tidak-dimengerti"  dan "tidak-menjejalkan-segala-galanya-kepada-pembaca",  tanpa mengaburkan batas antara kedua hal itu. Dari kenyataan karya beberapa penyair (khususnya para pemula), yang sering muncul adalah puisi dengan ungkapan perasaaan semata. Padahal, sebenarnya dalam puisi juga perlu dimunculkan sisi intelektualitas di dalamnya.

STRUKTUR FISIK DALAM PUISI
Struktur fisik adalah struktur yang bisa kita lihat melalui bahasanya yang tampak. Struktur fisik terdiri dari (1) irama; (2) rima; (3) diksi; dan (4) licentia poetica.

(1) IRAMA
Irama atau ritme berhubungan dengan pengulangan bunyi, kata, frasa, dan kalimat. Dalam puisi, irama berupa pengulangan yang teratur suatu baris puisi menimbulkan gelombang yang menciptakan keindahan. Irama dapat juga berarti pergantian keras-lembut, tinggi-rendah, atau panjang-pendek kata secara berulang-ulang dengan tujuan menciptakan gelombang yang memperindah puisi. Perhatikan puisi DOA karya Chairil Anwar! Dalam puisi tersebut terdapat pengulangan kata Tuhanku.

          D O A
          Karya : Chairil Anwar

          kepada pemeluk teguh 

         
Tuhanku
         
dalam termangu
          aku masih menyebut namamu          biar susah sungguh          mengingat Kau penuh seluruh          cayaMu panas suci          tinggal kerdip lilin di kelam sunyi          Tuhanku          aku hilang bentuk          remuk          Tuhanku          aku mengembara di negeri asing          Tuhanku          di pintuMu aku mengetuk          aku tidak bisa berpaling.
Lebih jauh mengenai IRAMA, klik di sini : http://www.facebook.com/note.php?note_id=148492248592647

(2) RIMA
Rima (persamaan bunyi) adalah pengulangan bunyi berselang, baik dalam larik maupun pada akhir puisi yang berdekatan. Bunyi yang berima itu dapat ditampilkan oleh tekanan, nada tinggi, atau perpanjangan suara. Berguna untuk menambah keindahan suatu puisi.

Contoh :
          Berakit-rakit ke hulu
          berenang-renang ke tepian
          Bersakit-sakit dahulu
          bersenang-senang kemudian.

Lebih jauh mengenai RIMA, klik di sini : https://www.facebook.com/note.php?note_id=140398852735320

(3) DIKSI
Diksi, atau pilihan kata merujuk pada gaya ekspresi oleh penulis. Pengertian dari “diksi” yang lebih umum digambarkan dengan enunsiasi kata — seni berbicara yang jelas yang memungkinkan setiap kata dapat didengar dan dipahami hingga kompleksitas dan ekstrimitas terjauhnya. Arti kedua ini lebih menekankan pada pengucapan dan intonasi, daripada pemilihan kata dan gaya bahasa.

Pengertian diksi yang lebih luas (menurut Gorys Keraf, 2002) :
1. Pilihan kata atau diksi mencakup pengertian kata-kata mana yang harus dipakai untuk mencapai suatu gagasan, bagaimana membentuk pengelompokan kata-kata yang tepat atau menggunakan ungkapan-ungkapan, dan gaya mana yang paling baik digunakan dalam suatu situasi.
2. Pilihan kata atau diksi adalah kemampuan membedakan secara tepat nuansa-nuansa makna dari gagasan yang ingin disampaikan dan kemampuan untuk menemukan bentuk yang sesuai (cocok) dengan situasi dan nilai rasa yang dimiliki kelompok masyarakat pendengar.
3. Pilihan kata yang tepat dan sesuai hanya dimungkinkan oleh penguasaan sejumlah besar kosakata atau perbendaharaan kata (vocabulary)  bahasa itu. Sedangkan yang dimaksud pembendaharaan kata atau kosakata suatu bahasa adalah keseluruhan kata yang dimiliki suatu bahasa.

Sedangkan fungsi diksi ialah :
1. Melambangkan gagasan yang diekspresikan secara verbal.
2. Membentuk gaya ekspresi gagasan yang tepat (sangat resmi, resmi, tidak resmi) sehingga menyenangkan pendengar atau pembaca.
3. Menciptakan komunikasi yang baik dan benar.
4. Menciptakan suasana yang tepat.
5. Mencegah perbedaan penafsiran.
6. Mencegah salah pemahaman.
7. Mengefektifkan pencapaian target komunikasi.

(4) LICENTIA POETICA
Licentia poetica,  suatu istilah yang kerap terdengar dari dunia sastra. Yaitu suatu lisensi atau izin tak tertulis yang diberikan kepada penulis karya sastra — termasuk penyair — untuk menerjang kaidah tata bahasa Indonesia yang baik dan benar demi menimbulkan efek-efek tertentu sesuai keinginannya. Singkatnya dengan licentia poetica, seorang penulis ”dihalalkan” mempergunakan kaidah bahasa sendiri meski menyimpang.

Lebih jauh mengenai LICENTIA POETICA, klik di sini : http://www.facebook.com/photo.php?fbid=118549161586956&set=t.100002956172271&type=3

EMPAT LANGKAH MENULIS PUISI
Pada dasarnya, menulis puisi hanya membutuhkan empat langkah :

(1) PENCARIAN IDE, dilakukan dengan mengumpulkan atau menggali informasi melalui membaca, melihat, dan merasakan terhadap kejadian/peristiwa dan pengalaman pribadi, sosial masyarakat, ataupun universal (kemanusiaan dan ketuhanan).

(2) PERENUNGAN, yakni memilih atau menyaring informasi (masalah, tema, ide, gagasan) yang menarik dari tema yang didapat. Kemudian memikirkan, merenungkan, dan menafsirkan sesuai dengan konteks, tujuan, dan pengetahuan yang dimiliki.

(3) PENULISAN, merupakan proses yang paling penting dan rumit. Penulisan ini mengerahkan energi kreatifitas (kemampuan daya cipta), intuisi, dan imajinasi (peka rasa dan cerdas membayangkan), serta pengalaman dan pengetahuan. Untuk itulah, tahap penulisan hendaknya mencari dan menemukan kata atau pun kalimat yang tepat, singkat, padat, indah, dan mengesankan. Hasilnya kata-kata tersebut menjadi bermakna, terbentuk, tersusun, dan terbaca sebagai puisi.

(4) PERBAIKAN atau REVISI, yaitu pembacaan ulang terhadap puisi yang telah diciptakan. Ketelitian dan kejelian untuk mengoreksi rangkaian kata, kalimat, baris, bait, sangat dibutuhkan. Kemudian mengubah, mengganti, atau menyusun kembali setiap kata atau kalimat yang tidak atau kurang tepat. Oleh karena itu, proses revisi atau perbaikan ini terkadang memakan waktu yang cukup lama hingga puisi tersebut telah dianggap ''siap untuk dipublikasi”, tidak dapat diubah atau diperbaiki lagi oleh penulisnya.

SUMBER IDE
Ide penulisan bisa berdasarkan catatan — khususnya catatan harian (diary) — dan atau dari hasil perenungan.

Jika puisi ditulis berdasarkan catatan harian, langkah-langkahnya adalah :

1. Baca dan renungkan isi catatan atau catatan-harian yang Anda miliki.
2. Coretlah kata-kata yang tidak penting dan tambahkan kata-kata yang menurut Anda menarik untuk disertakan.
3. Hapuslah baris-baris yang tidak penting.
4. Atur dan urutkan kembali baris-baris yang sudah Anda pilih.
5. Bacalah kembali hasil akhir baris-baris itu.
6. Sunting (edit) baris-baris itu sehingga menjadi baris-baris puisi yang menarik.

Jika puisi ditulis berdasarkan hasil perenungan, maka langkah-langkahnya ialah :

1. Duduklah di bawah pohon, di dalam kamar, atau di tempat lain yang menyenangkan bagi Anda.
2. Pejamkan mata Anda sejenak dan pikirkan tentang hal yang menyenangkan, misalnya berlibur ke daerah pegunungan.
3. Hiruplah sejuknya udara dingin pegunungan (dalam imajinasi).
4. Dengarkan suara burung yang berkicauan di dahan pohon.
5. Rasakan bahwa Anda sedang berada di tempat itu dan rasakan kenyamanannya (dalam imajinasi).
6. Renungkan apa yang Anda rasakan. Renungkan bahwa semua keindahan itu merupakan karunia Tuhan.
7. Resapkan dalam hati apa yang telah Anda rasakan, lalu buka mata Anda perlahan-lahan.
8. Ungkapkan apa yang telah Anda rasakan, Anda lihat, Anda sanjung dalam renungan Anda, dalam bentuk puisi.

PENGEMBANGAN IDE MENJADI TEMA
Menulis puisi termasuk jenis ketrampilan. Sebagaimana halnya ketrampilan yang lain, pemerolehannya harus melalui belajar dan berlatih. Makin sering belajar dan makin giat berlatih tentu makin cepat trampil.
Dalam menulis puisi, yang pertama-tama dilakukan adalah menentukan tema. Tema adalah pokok persoalan yang akan dikemukakan dalam bentuk puisi. Agar lebih jelas perhatikan puisi berikut :


          DIALOG SEPASANG BUNGA
          Karya : Slamet Wahedi

          Aku anggrek
          lahir di tengah pengap hamparan biru langit
          dari sekerling matahari
          awan menyapu muka, meninggalkan gerimis-gerimis tua
          dan embun terasa bayangan maya
          sirna sebelum senja kukencani

          Aku melati dan kau anggrek
          di tepian cakrawala pucuk kita meninju langit
          menggebuk-gebuk nafas angin
          dan bermimpi membangun riak sungai tua
          di antara tangkai-tangkai hijau

          Kami anggrek dan melati bersemi
          membukakkan hari-hari yang kian suram
          yang kami harkati dengan bulan kami sendiri
          kami sepasang bunga tercampakkan
          seperti waktu luruh menyapa jiwa

Puisi di atas berjudul “Dialog Sepasang Bunga”. Judul yang cukup menggelitik. Bunga apa yang sedang berdialog dan apa yang didialogkan, begitu kita mungkin akan bertanya sebelum membaca puisi tersebut. Ternyata, bunga anggrek dan bunga melati. Peristiwa yang menimpa mereka (dua bunga itu) adalah kesuraman hidup, tercampakkan seperti waktu luruh menyapa jiwa.

Menyatakan kesuraman hidup dengan menghadirkan sosok bunga memang menarik. Akan tetapi, benarkah Wahedi semata-mata sedang berbicara tentang bunga? Bisa ya, bisa tidak. Yang jelas menimpa bunga atau bukan, pokok persoalan yang digarap dalam puisi itu adalah kemanusiaan : kelahiran yang pengap, kemayaan hidup, upaya melawan alam, mimpi tentang sesuatu, tetapi menghadapi hari-hari suram. Demikianlah puisi meskipun menggunakan personifikasi dan simbol, pada dasarnya berbicara tentang manusia. Jadi tema puisi di atas adalah kemanusiaan.

Jika sudah menemukan dan menentukan tema yang akan ditulis menjadi puisi, kita perlu mengembangkan tema itu : hal-hal apa yang akan dikemukakan dalan puisi. Hal-hal yang sudah akan dikemukakan dalam puisi itu dapat dicari melalui pemikiran atau pengamatan. Secara mudah, misalnya kita akan menulis puisi yang berhubungan dengan kehidupan seorang anak kecil penjual koran yang harus membiayai sekolahnya sendiri. Setelah menenetukan masalah tersebut kita akan melakukan pengamatan di lapangan tentang kehidupan si penjual koran. Dari hasil pengamatan itu kemudian dipilih dan ditentukan mana yang akan diungkapkan dalam puisi.

PRAKTEK LEBIH MUDAH DIBANDING TEORI
Pada umumnya para penyair terkenal belajar menulis puisi dengan autodidact,  tidak melalui bangku Fakultas Sastra. Sarjana Sastra kebanyakan menjadi pengamat, hanya sedikit yang benar-benar menjadi penyair.
Menulis puisi ibarat belajar membuat kue. Belilah buku teori membuat kue lalu bacalah. Dijamin Anda tidak pernah akan trampil membuat kue dibanding kalau Anda belajar sambil praktek (learning by doing).  Tentunya mula-mula tidak akan sebagus pembuat kue profesional, namun dari pengalaman dan trial and error  berulang-ulang, akhirnya Anda akan menjadi profesional juga.
Sudah tentu dibutuhkan wawasan mengenai struktur batin dan struktur fisik puisi seperti serba sedikit diuraikan di atas. Dibutuhkan pengetahuan mengenai irama, rima, dan diksi, walaupun tidak terlalu mendalam. Karena dalam mengungkapkan kata-kata ke bentuk puisi diperlukan pemilihan kata-kata yang tepat, bukan hanya tepat maknanya melainkan juga harus tepat bunyi-bunyinya. Penyusunan kata-kata itu harus sedemikian rupa sehingga menimbulkan kesan estetis (indah). Selain itu, pendayagunaan majas dan personifikasi harus diperhatikan agar puisi yang dibuat semakin bagus.

Menulis puisi berbeda dengan menulis esai (artikel). Kalau dalam penulisan esai kita dituntut untuk menggunakan kata yang tegas dan tidak berbelit-belit, maka dalam penulisan puisi justru sebaliknya. Kita dituntut untuk pandai mengimprovisasikan sebuah keadaan menjadi rangkaian kata-kata yang enak dibaca dan penuh dengan makna tersembunyi.

Mari kita mulai dengan praktek : Ketika Anda duduk-duduk di taman, Anda melihat seekor kucing sedang makan tikus dengan sangat rakus, sehingga menimbulkan bunyi kriuk-kriuk  yang begitu menjijikkan. Maka kalau keadaan itu diterjemahkan ke dalam satu bentuk puisi akan menjadi seperti ini :


          Lihatlah...
          kucing jantan sedang asyik mencumbu kepala tikus ...

Mengapa kita harus memilih kata “lihatlah,” bukan “kulihat”?
Dalam konteks ini tujuan kita adalah mencoba mengajak pembaca untuk ikut merasakan apa yang sedang kita rasakan. Nah, kalau kita memilih kata kulihat,  maka berarti kalimat tersebut hanya ditujukan untuk diri kita sendiri, bukan untuk pembacanya.

Mengapa kita harus memilih frasa “kucing jantan”, bukan “kucing betina” atau “kucing” saja?
Tujuannya di sini adalah sebagai penegasan untuk memperkuat makna, sebab kata jantan  itu sendiri sudah memiliki makna kuat, garang, ganas dsb. Kalau kita hanya memakai kata kucing  saja, kalimat tersebut akan menjadi kurang tegas, terlebih kalau kita memilih kata kucing betina.  Itu justru akan membuat lemah makna yg terkandung.

Lalu mengapa kita harus memilih kata “mencumbu” bukan “memakan”?
Tujuannya adalah untuk memperluas makna. Kalau kita pilih kata memakan,  paling pembaca mikirnya begini: Halah, cuma ‘gitu doang, memasukkan makanan ke dalam mulut.  Akan sangat jauh berbeda dengan ketika kita memilih kata mencumbu.  Pembaca akan mendapatkan banyak imajinasi dari pemakaian kata mencumbu  di sini. Bisa diartikan memeluk, menciumi, menjilati, melumat, dsb.

Mengapa “kepala tikus”?
Frasa kepala tikus  di sini berfungsi untuk memfokuskan perhatian. Kalau kita memilih frasa perut tikus,  maka perhatian pembaca akan melebar ke mana-mana, karena di dalam perut yang begitu empuk terdapat isi yang tentu saja ikut termakan dan dipilah-pilah lagi oleh si kucing. Sangat berbeda ketika kita memilih frasa kepala tikus. Kepala tikus  mengandung makna bahwa tikus yang dimakan itu hanya satu. Selain itu, frasa tersebut akan membuat pembaca berimajinasi begini : betapa gemeretaknya ketika gigi-gigi kucing itu sedang beradu dengan tempurung kepala tikus yang begitu keras. Pastilah liur si kucing sampai berceceran dan tentu saja itu sangat sangat menjijikkan.

Dari imajinasi pembaca tersebut kita akan sangat mudah dalam memilih kalimat selanjutnya. Satu contoh kelanjutannya adalah seperti ini :


          Lihatlah ...

          kucing jantan sedang asyik mencumbu kepala tikus

          liurnya pun menetes menimpa rumput lalu membusuk
          hangus
          dan seiring taring kucing runcing gemerincing...
          dst.
Mulailah menulis. Jangan terlampau terikat dengan teori. Atau kondisinya dibalik : menulis (praktek) lebih dahulu. Teori belakangan.

10 komentar:

  1. Ijin Copy artikel buat pembelajaran..

    ebusyra.blogspot.com

    BalasHapus
  2. terimah kasih atas infonya,jangan lupa kunjungi juga alamat kami di www.motogp.unsri.ac,id

    BalasHapus
  3. Terima kasih informasinya jngn lupa kunjungi alamat kami ya di http://ramafatahillah10.blogspot.com

    BalasHapus
  4. belajar membuat puisi .. kunjungi blog saya
    http://bloger-kmc.blogspot.com

    BalasHapus
  5. mencerahkan..... saya juga lagi belajar membuat puisi....
    http://gerobak-wawasan.blogspot.com/2013/11/rembulan-di-ufuk-barat.html

    BalasHapus
  6. makasih.. :)
    follow aku ya.. @mybenn_

    BalasHapus
  7. Saya termasuk orang yang suka dalam membuat puisi gan, ilmu yang bermanfaat


    http://infoejaman.blogspot.com/

    BalasHapus